Minggu, 04 September 2011

IDUL FITRI

Sebulan sudah kita melewati bulan Ramadhan ( puasa ), bulan dimana kita ditempa untuk menahan makan dan minum di pagi hingga petang, menahan hawa nafsu, menahan amarah, menahan pandangan – pandangan yang tidak diperkenankan oleh agama. Di Ramadhan pula grafik ibadah kita meningkat, membaca Al Qur’an / tadarrus tiap malam, memperbanyak sholat sunnah, memperbanyak amal shodaqoh dan amal – amal yang lainnya. Sangat banyak sekali Rahmat dan Karunia yang Allah turunkan di bulan Ramadhan, hingga pernah suatu ketika Nabi bersabda kepada para sahabat ; seandainya kamu tahu kemuliaan bulan ramadhan niscaya kamu akan meminta sebelas bulan yang lainnya menjadi bulan ramadhan semua. Setelah bulan ramadhan sampailah kita kepada bulan syawal, yang pada tanggal 1 syawal kita merayakan iedul fitri, secara linguistic kata ied berarti kembali, sedangkan kata fitri berarti fitroh / suci. Hal ini sejalan dengan hadist Nabi ; Barang siapa berpuasa di bulan ramadhan dengan rasa iman dan penuh harap maka akan diampuni segala dosa – dosanya di masa lampau. Dari teks hadist ini dapat disimpulkan bahwa seseorang yang berpuasa dengan sungguh dan penuh iman dan rasa harap kepada Tuhannya maka insya Allah akan diampuni dosa – dosa dia yang telah lampau, dengan kata lain dia masuk ke bulan syawal dalam keadaan bersih/ suci, semoga kita termasuk dalam orang – orang yang mendapat pengampunan Allah SWT. Kembali kepada pengertian bulan syawal, dari segi bahasa kata syawal berarti peningkatan, di bulan ini amal ibadah kita diharapkan lebih meningkat dari bulan sebelumnya. Itulah mengapa ulama berkata jika kamu ingin mengetahui apakah amal ibadah seseorang dibulan ramadhan di terima atau tidak, lihatlah amal ibadahnya sesudah bulan ramadhan. Bulan syawal bukanlah bulan kemenangan, itulah mengapa saya ( selaku penulis disini ) kurang sependapat dengan istilah “mari kita rayakan kemenangan” , dari kalimat ini seakan – akan kita bebas bertindak dan berbuat apa saja, padahal tidak demikian halnya. Justru bulan – bulan sesudah ramadhan menjadi ujian bagi kita, apakah kita masih mudawamah ( consistent ) dengan membaca Al Qur’an, sholat lail, berinfaq dan shodaqoh dan lain sebagainya. Kembali kepada idul fitri, apa sebenarnya tujuan dari perayaan ldul Fitri atau dengan kata lain apa yang harus kita lakukan setelah ibadah puasa ramadhan, Al Qur’an menjelaskan ; walitukmilu ‘iddata walitukabbirullaha ‘ala maa hadzakum wala’allakum tasyukurun.
Maka sempurnakanlah bilangan ibadah puasa kamu, dan bertakbirlah ( mengagungkan nama Allah ) dan supaya kamu semua menjadi orang - orang yang bersyukur. Penulis menggaris bawahi kata syukur, apa sebenaarnya makna syukur : Ulama membagi makna syukur menjadi 3 hal : pertama syukur berarti menampakkan / tidak menutupi apa yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, suatu ketika Nabi Muhammad berkata kepada Asma binti Abubakar : janganlah kamu menutupi anugrah dan karunia Allah kepada dirimu, jika itu kamu lakukan maka Allah akan menutup sebahagian anugrah dan karunia-Nya kepada dirimu. Makna syukur yang kedua adalah memberi sesuatau yang banyak walaupun kita mendapatkan sedikit, disinilah faktor keimanan sangat mempengaruhi amal ibadah seseorang. Makna syukur yang ketiga adalah mendermakan atau menfungsikan segala anugrah dan karunia Tuhan pada hal – hal yang digariskan sesuai dengan tuntunan agama. Semoga kita semua termasuk orang – orang yang pandai bersyukur, demikian yang dapat penulis sampaikan. Izinkan dalam kesempatan ini saya mengucapkan kepada seluruh Pimpinan, Staff,segenap ustad/ustadzah dan siswa siswi Lembaga Pendidikan Al Falah Tropodo II yang saya cintai, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan, rahmat, hidayah dan kesehatan kepada kita semua….. Amin.

Sumardiyono,
Pengajar Bahasa Inggris, Math, Science
Lembaga Pendidikan Al Falah Tropodo II ( jenjang SD )

Minggu, 03 Juli 2011

Antara NU Dan Muhammadiyah
PENDAHULUAN
Pluralisme agama menghadapkan kita pada dua tantangan sekaligus, yakni teologis dan sosiologis. Secara teologis, kita dihadapkan pada tantangan iman: bagaimana mendefinisikan iman kita ditengah keragaman iman yang lainnya? Begitu pula secara sosiologis, kitapun dihadapkan pada sejumlah fakta sosial: bagaimanakah hubungan antar umat beragama, lebih khusus lagi hubungan antar iman ditengah pluralisme agama
Fakta sosial secara jelas menyadarkan kita bahwasannya pluralisme agama belumlah berkorelasi positif dengan harmoni agama. Justru fakta berbicara sebaliknya: pluralisme agama seringkali menjadi pemicu konflik sosial dan sentimen keagamaan. Mengapa demikian? Banyak faktor yang bisa menjelaskan. Salah satunya adalah masih kuatnya “Hambatan Teologis” di kalangan umat beragama untuk menerima kehadiran pluralisme agama sebagai hukum Tuhan. Maka, alih-alih bersikap toleran, inklusif, dan pluralis, umat beragama justru semakin mengeras kearah sikap intoleran, eksklusif dan cenderung antipluralisme. Untuk itu, agenda awal kita adalah begaimana memecahkan “hambatan teologis” dikalangan umat beragama dalam menerima kehadiran pluralisme sebagai hukum Tuhan.
LATAR BELAKANG MASALAH
Muhammadiyah dan NU merupakan dua organisasi terbesar yang ada di Negeri ini. Pengaruh dari kedua organisasi ini amat terasa ditengah masyarakat, meski berbeda massanya. Dakwah bil lisan maupun bil hal yang menjadi ciri khas kedua ormas keagamaan ini sudah sejak lahirnya diketahui masyarakat, bukan saja didalam negeri, tetapi juga di luar negeri.
Sebagai organisasi terbesar di Indonesia, ternyata antara Muhammadiyah dan NU memiliki beberapa perbedaan mendasar, baik dalam teologi, visi politik maupun perbedaan yang bersifat umum, dalam hal ini perbedaan sumber daya dan infrastruktur yang kemudian berpengaruh pada jalannya kedua organisasi tersebut kurang berimbang. Perbedaan-perbedaan yang ada mengakibatkan antara Muhammadiyah dan NU memiliki jarak mencolok, menjadikan kedua organisasi ini jurang pemisahnya terlalu lebar. Akibatnya, tidak produktifnya bagi perkembangan wacana kebangsaan maupun wacana keagamaan.
POKOK MASALAH
Keberadaan Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama) dalam sejarah Indonesia modern memang amat menarik. Sepanjang perjalanan kedua organisasi Islam terbesar ini, senantiasa diwarnai koorporasi, kompetisi, sekaligus konfrontasi. Membicarakan Muhammadiyah dan NU di Indonesia selalu melibatkan harapan dan kekhawatiran lama yang mencekam, karena wilayah pembahasan ini penuh romantisme masa lalu yang sarat emosi dan sentimen historis yang amat sensitif. Sekedar contoh, Sering dinyatakan, kelahiran NU tahun 1926 merupakan reaksi defensif atas berbagai aktivitas kelompok reformis, Muhammadiyah (dan Serekat Islam), meski bukan satu-satunya alasan.

TINJAUAN TEORITIS
Penelitian banyak mengemukakan, Muhammadiyah identik organisasi Islam yang mencontoh gerakan misi dan zending barat. Berhubung Muhammadiyah mencontoh gerakan misi dan Zending Barat, maka menurut para pengamat, gerakan-gerakan yang dilakukan merupakan gerakan yang bercorak Barat, seperti mendirikan sekolah, panti asuhan dan rumah sakit (James Peacock, 1981; Mitsuo Nakamura, 1980; Lance Castles, 1982; Alfian, 1984; Mulkhan, 2000; Asy,arie, 1998; Bruinessen, 1994; Hikam, 1999; Pendekatan Hegelian: (1). Lebih menekankan fungsi komplementatif daripada fungsi suplementatif, (2). Menekankan pentingnya kelas menengah.; Pendekatan Alexis de Tocqueville: Menekankan fungsi civil society sebagai counter balancing terhadap negara, dengan melakukan penguatan organisasi-organisasi independen di masyarakat dan pencangkokan civic culture untuk membangun budaya demokratis.
KONFLIK ISLAM MODERN DAN ISLAM TRADISIONAL DI INDONESIA
Dialektika Muhammadiyah dan NU dalam sejarah politik Islam di Indonesia, dapat dirunut, paling tidak, sejak lahir tahun 1930-an, melalui MIAI (Majelis Islam A,la Indonesia), sebuah federasi untuk membina kerja sama berbagai organisasi Islam. Kompetisi dan konstelasi kedua tradisi Islam ini, sepanjang Orde Lama dan Orde Baru, tampak dari rivalitas keduanya dalam Masyumi sepanjang tahun 1945-1952 dan di PPP sepanjang tahun 1973-1984, respon terhadap Demokrasi Terpimpin dan Nasakom, serta respons terhadap rezim Orba. Belum lagi persaingan dalam memperebutkan berbagai jabatan politik. Karena itu, dapat dimengerti bila persaingan ini pada akhirnya juga merambah bidang lain, termasuk pendekatan dalam mengembangkan civil society.
Antagonisme politik yang terjadi antara Islam modernis dengan pemerintah yang berlangsung sejak tahun 1960 (ketika Masyumi dipaksa membubarkan diri oleh Presiden Soekarno), membuat kalangan modernis mencoba mencari landasan teologis baru guna berpartisipasi dalam “develomentalisme” Orba. Tahun 1971, dalam Muktamar di Ujung Pandang, Muhammadiyah menyatakan tidak berafiliasi terhadap salah satu partai politik manapun. Hal ini hampir bersamaan dengan wacana yang dikembangkan generasi baru intelektual Islam, yang sejak dasawarsa 1970-an berusaha mengembangkan format politik baru yang lebih menekankan aspek substansial. Motivasi kalangan modernis agar bisa terakomodasi dalam proses pembangunan Orba seperti ini menyebabkan mereka mengembangkan civil society dengan pendekatan Hegelian, yang memiliki ciri (1) lebih menekankan fungsi komplementatif dan suplementatif. Dengan cirri seperti ini, sipil society berfungsi melaksanakan sebagian peran-peran negara. (2) Menekankan pentingnya kelas menengah. Tentu saja kelas menengah yang sedikit banyak bergantung kepada state. Karena sebagaimana lazimnya negara dunia ketiga yang sedang berkembang, state memegang peranan penting dalam seluruh sektor kehidupan.
Pendekatan Hegelian seperti diadopsi oleh Muhammadiyah ini, mendapat kritik tajam dari Alexis de Tocqueville. Ini disebabkan, karena dalam pemikiran Hegel, posisi negara dianggap sebagai standar terakhir. Seolah-olah, hanya pada dataran negara sajalah politik bisa berlangsung secara murni dan utuh, sehingga posisi dominan negara bermakna positif. Dengan demikian civil society akan kehilangan dimensi politik dan tergantung manipulasi dan intervensi negara. Pendekatan Tocquevellian yang diadopsi NU, menekankan fungsi civil society sebagai counter balancing terhadap negara, dengan melakukan penguatan organisasi-organisasi independen di masyarakat dan pencangkokkan civic culture untuk membangun budaya demokratis. Pendekatan Tocquevellian ini digunakan karena sepanjang dua dasawarsa awal Orba, NU tidak memperoleh tempat dalam proses-proses politik. Marginalisasi politik ini, disebabkan karena rezim Orba hanya mengakomodasi kelompok Islam yang mendukung modernisasi, dan itu didapat dari kalangan modernis yang sudah lebih dulu melakukan pembaruan pemikiran politik Islam. Selain itu, tentu saja, akibat rivalitas dengan kalangan modernis yang menjadi kelompok dominan di PPP. Dengan demikian, dapat dimengerti jika sejak muktamar 1984 di Situbondo, NU menyatakan kembali khitah 1926, dan mengundurkan diri dari politik praktis, yang secara otomatis menarik dukungan dari PPP.
Dengan motivasi seperti itu, maka sejak akhir dasawarsa 1980-an, aktivis NU banyak diarahkan pada penciptaan free public sphere, tempat dimana transaksi komunikasi bisa dilakukan warga masyarakat secara bebas dan terbuka. Upaya ini dilakukan dengan cara advokasi masyarakat kelas bawah, dan penguatan LSM. Mereka meyakini, civil society hanya bisa dibangun jika masyarakat memiliki kemandirian dalam arti seutuhnya, serta terhindar dari jaring intervensi dan kooptasi negara. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengamati kiprah NU sejak awal dasawarsa 1990-an. Ketika kalangan Islam modernis terakomodasi dlam state (ICMI), Gus Dur mendirikan forum demokrasi, dan aktivitas NU secara umum diarahkan untuk menciptakan ruang publik diluar state dengan banyak bergerak dalam LSM-LSM dan kelompok-kelompok studi. Inilah peran Gus Dur dan NU sebagai kekuatan penyeimbang dan berhadapan vis-à-vis negara. Mereka ini pada awalnya menjadikan Islam modernis yang terakomodasi dalam state sebagai lahan kritik (Hikam:1999). Bagi mereka, modernisme tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya sumber gagasan kemajuan dan dipuja sebagai dewa penyelamat bagi peradaban manusia. Karena modernisme itu sendiri terbukti tidak mampu memenuhi janji-janji kemajuannya. Bahkan, dalam beberapa hal, modernisme meninggalkan banyak petaka.
Kesimpulan
Konflik yang semakin mengental antara Islam modern (Muhammadiyah) dengan Islam tradisional (Nahdatul Umat) dengan puncak klimaksnya ketika K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih sebagai Presiden RI ke-4, maka emosi politikpun menyusup kedalam gerakan kultural kedua Ormas tersebut. Dimana sebenarnya perbedaan pemikiran kedua ormas itu tidaklah terlalu jauh, karena secara subtantif, kedua aktivis ormas terbesar itu mempunyai titik temu dalam aras mengusung wacana baru yang menyemangati transformasi, inklusivitas, dan progresivitas.
Sejarah membuktikan, perseteruan politik kerapkali meruntuhkan singgasana kultural yang mempunyai komitmen untuk membangun civil society. Hal tersebut dapat dilihat dari retaknya hubungan antara Gus Dur (tokoh NU) dan Amien Rais (Tokoh Muhammadiyah), karena keduanya sedang bertarung dalam domain politik yang implikasinya sangat besar terhadap bangunan kultural yang berkecambah dalam kedua ormas tersebut. Oleh karena itu, harapan besar berada diatas pundak aktivis muda NU dan Muhammadiyah untuk mewujudkan hubungan yang sinergis. Disinilah gerakan kultural dalam kedua ormas tersebut dipertaruhkan.
STANDAR PENGAJARAN BAHASA
Pendahuluan
Bahasa merupakan salah satu elemen yang sangat penting dalam struktur kehidupan kita sehari - hari yang kita miliki, dengan bahasa kita dapat berkomunikasi dengan baik, melemparkan ide dan gagasan, menyerap informasi dari orang lain dan sebagainya. Untuk menguasai suatu bahasa dengan baik ( bahasa asing/bahasa inggris ) tentu kita harus mempelajarinya , bisa melalui sekolah, kursus-kursus atau langsung kita pergi luar negeri dimana bahasa yang akan kita pelajari tersebut sudah biasa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kesempatan ini penulis mencoba untuk menguraikan cara – cara pengajaran bahasa berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang telah didapat. Penulis menyadari bahwa diluar sana masih banyak praktisi pendidikan yang memilki metode/cara yang lebih bagus, oleh karena itu metode atau cara pengajaran yang saya tawarkan masih sangat terbuka untuk berbagai masukan dan kritik demi penyempurnaan pangajaran sebuah bahasa.

Teknik Pengajaran secara langsung dan aktif
Dalam pengajaran sebuah bahasa ( bahasa inggris ) yang paling ideal adalah menggunakan bahasa target itu sendiri ( bahasa inggris ) disinilah seorang guru harus sangat kreatif dan inovatif dalam memberi penjelasan kepada siswa tentang materi yang diberikan. Contoh : untuk menerangkan tentang vocabulary ( fruits ) seorang guru tidak bokeh mengajarkannya dengan: oke it is a banana atau pisang ( jangan mentranslet ) yang benar adalah : it is a banana while shows the picture of banana then asks the students to read together, after that read one by one. Kesimpulannya adalah jangan menggunakan bahasa Indonesia, disinilah kita harus memanfaatkan segala macam media yang ada dan juga gesture kita. Kalaupun masih ada yang Tanya ( sudah bener-bener tidak mengerti, dengan sangat terpaksa kita harus mentranslate, sekali lagi dalam kondisi terpaksa )

Berikut adalah salah satu metode pengajaran Bahasa ( bahasa inggris )
Di dunia pendidikan kita mengenal system E S A ( Engage – Study – Activate )
Engage : adalah suatu tahap, dimana pada tahap ini siswa diperkenalkan terlebih dahulu dengan berbagai macam vocabularies yang nantinya akan ada pada materi yang kita ajarkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara Tanya jawab, bisa picture, slide, realia, gesture dsb. Kemudian ajak mereka membaca vocabulary tersebut bersama-sama dengan keras, benar dan jelas ( Drilling ). Pada masa ini siswa harus benar – benar paham dengan vocabularies yang kita ajarkan. Contoh mengajarkan materi expression like and dislike about food and fruits, siswa harus diperkenalkan dulu dengan berbagai nama tentang food dan fruits
Study : Adalah suatu tahap, dimana pada tahap ini siswa sudah belajar terhadap materi yang diberikan oleh seorang guru. Disini target language apa yang akan diajarkan harus sudah dikuasai siswa, Contoh : materinya expression like and dislike, dengan target languge : Do you like orange ? yes, I do, Does she like fried chicken ? yes, she does ( harus sudah benar-benar dikuasi oleh siswa )
Dalam mengajarkan target language ada satu cara untuk merangsang / menggiring siswa menebak sebuah kalimat ( target language ) apa yang mestinya di ucapkan untuk menyakan sesuatu berkaitan dengan expression like and dislike, hal ini kita kenal dengan istilah scene setting / context building. Buatlah scene setting atau cerita sesingkat mungkin. Kalau sudah menemukan target language nya, ajak mereka untuk mengucapkannya bersama – sama dengan membaca apa yang ada papan tulis secara lantang ( speak loudly ) bersama-sama, baru setelah itu tiap siswa.

Activate : adalah suatu tahap, dimana pada tahap ini siswa mulai mempraktekkan materi yang telah diajarkan. ( disinilah process of speaking dimulai ). Praktek disini bisa dilakukan guru dengan siswa secara bersama-sama ( Clasikal ) dan juga guru dengan siswa satu – persatu ( individual ). Pada tahap ini semua harus sudah bisa berkomunikasi dalam bahasa inggris dengan menggunakan target language yang tejah di ajarkan. Example : do you like banana ? yes I do or can be answered no I don’t. Does she like banana ? yes she does. Pada tahap activate ini baik guru atau siswa sudah tidak boleh lagi menggunakan bahasa Indonesia.

Pada tahap selanjutnya siswa diperkenankan menulis seluruh catatan yang ada di papan tulis ( vocabulary, target language, scene setting dll ). Pada saat siswa menulis guru berkeliling mengamati tulisan anak didiknya, serta membenarkan apabila ada kesalahan penulisan.

Ada sebuah filosofi yang mengatakan bahwa pelajaran adalah sebuah hadiah bagi murid anda, maka dari itu berilah selalu hadiah yang terbaik bagi sehingga mereka selalu mengharap kehadiran anda.
Tips untuk seorang guru :
Guru harus menguasai dengan baik materi yang akan diajarkan
Memberikan penyampaian secara singkat dan jelas.
Memberi peluang sebesar mungkin untuk kreativitas siswa
Seorang guru hendaknya menerapkan low T T T ( teacher talk time ) dan S T T ( students talk time )
Seorang guru harus selalu berusaha untuk tersenyum, menyapa muridnya dengan ramah, serta memiliki rasa empati yang tinggi.
Apabila anda mengajarkan Bahasa Inggris, maka anda harus memiliki kemampuan berbahasa inggris dengan baik meliputi empat skill ( speaking, listening, reading dan writing )
Ciptakan suasana kelas yang riang, gembira dan penuh semangat ( joyfull learning )
Seorang guru hendaknya tidak lupa untuk selalu memohon kepada Tuhan agar selalu diberi petunjuk dalam setiap proses pembelajaran.

Variasi – variasi dalam pengajaran Bahasa Inggris
GAMES
Permainan merupakan salah satu unsur yang cukup penting dalam pembelajaran ( khususnya bahasa inggris ) permainan merangsang siswa untuk kreatif, inofatif serta berfikir kritis. Permainan juga mampu menciptakan suatu atmosfer pembelajaran didalam kelas menjadi hidup, ceria dan bersemangat

Sing a song
Menyanyikan sebuah lagu merupakan kebanggaan tersendiri ( apalagi dalam Bahasa Inggris ) bagi siswa. Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri bagi mereka, disamping itu sing a song melatih listening dan pronounciation mereka untuk lebih peka.

See a movie
Dalam pengajaran bahasa visualisai merupakan suatu hal yang mutlak, dari apa yang mereka lihat dan dengar melalui gambar/film hal ini akan berpengaruh bagi ketajaman otak mereka. Hendaknya dalam program see a movie diiringi dengan pertanyaan-pertanyaan yang memacu keberanian mereka untuk menyampaikan ssuatu pendapat.

Role play
Ini merupakan sebuah permainan seni peran yang menuntut mereka berlaku totalitas terhadap peran yang mereka jalankan, tentu semua prosesnya menggunakan Bahasa Inggris. Inti dari sebuah role play adalah membawa atmosfer yang ada di luar ke dalam kelas menjadi suatu yang real terjadi

Story telling
Program ini salah satu tujuannya adalah agar siswa tidak bosan. Jangan lupa bahwa salah satu sifat anak-anak adalah senang mendengarkan sebuah cerita, maka dari itu berceritalah pada mereka. Dalam story telling ada beberapa hal yang diperhatikan ;
Kemampuan si pencerita untuk menceritakan sebuah cerita dengan singkat dan jelas
Gunakan mimic, body languages yang sesuai dengan cerita yang dibawakan
Gunakan flash card, realia dan berbagai macam media yang dapat jalannya cerita yang kita bawakan
Gunakan suara yang keras ( namun tak perlu teriak ), jelas dan pastikan semua mata memandang ke arah anda dengan penuh rasa antusias
Setelah bercerita beri mereka beberapa pertanyaan, ini untuk menguji daya tangkap mereka terhadap cerita yang di berikan.
Contoh Model Pembelajaran :
Materi : Asking like and dislike ( fruits )
Target Language : - Do you like ……… ?
Yes, I do and No I don’t
Langkah Pembelajaran
Buka pelajaran dengan mengucap greeting/salam ( usahakn dengan suara yang keras, jelas dan dengan wajah yang ceria hal ini akan mempengarui psikologi pembelajaran
Ajarkan dulu nama-nama buah (fruits), gunakan gambar,realia, atau real buah. Usahakan jangan menggunakan bahasa Indonesia. Ajarkan pula bagaimana cara menyebutkan dengan benar.
Contoh : what is it ? it’s a banana, it’s an orange ( sambil menunjukkan gambar ). Berikan kurang lebih 10 nama buah. 10 nama buah inilah yang nanti akan kita gunakan dalam percakapan ( inti pembelajaran ) dengan menggunakan target language, sehingga sebuah percakapan atau conversation tidak terlalu jauh. Pastikan semua siswa mampu mengucapkan semua nama buah dengan benar ( baik secara pronounciation maupun grammar )

Berikutnya kita mulai menuju inti pembelaran, yaitu mengajarkan target language ( do you like…. ? )tapi sebelum kesana kita beri mereka cerita singkat ( scene setting ) hal ini bertujuan untuk merangsang otak mereka berfikir, contoh :
Students I have story, listen to me. Tunjukkan 2 gambar/foto remaja baik laki maupun perempuan kemudian temple di papan






BUDI 9 YEARS RUDI 9 YEARS
OLD OLD

Students he is Budi 9 years old ( sambil menunjuk ke foto Budi ) he is Rudi 9 years old too ( sambil menunjuk ke Rudi) they are a good friend and the same school, one day budi tells that he got a kilo of orange from his grandmother. He wants to give an orange to Rudi, he asks Rudi whether he like banana or not. How does Budi say …………….. ?
Apabila siswa masih mengalami kesulitan pemahaman cerita, anda bisa translate ke bahasa Indonesia secara singkat. Giring siswa untuk mengucapkan Do you like orange ? pastikan semua siswa mengucapkan target language secara keras dan benar, baru setelah itu ajarkan cara menjawbnya , yes I do atau no I don’t. Pengucapan di lakukan bersama – sama terlebih dahulu, setelah itu tiap siswa.

Practicing, pada tahap ini siswa sudah mempraktekkan apa yang telah diajarkan dengan teman-teman sekelasnya. Tunjuk salah satu siswa ( yang lebih pintar ) minta dia untuk menanyakan expression like and dislike beserta jawabannya kepada seluruh temannya ( giliraan satu persatu ), setelah dia selesai baru teman berikutya sampai semua kebagian. Pastikan untuk objek yang ditanyakan ( nama buahnya ) tiap siswa berbeda ; do you like banana ?, do you like orange ? dan seterusnya
Tahap berikutnya adalah meminta siswa menulis di buku catatn mereka, tentang materi yang telah di tulis di papan guru ( meliputi ; vocabularies, target language dll ). Pada saat siswa menulis guru berkeliling mengamati tulisan siswanya serta membenarkan apabila terjadi kesalahan penulisan.
Apabila masih tersedia cukup waktu, kita bisa mengisinya dengan game, atau jenis kegiatan yang lainnya. Apabila diberi game, seyogyanya game masih berkaitan dengan materi ( ada relevansi ) namun walaupun tidak ada relevansi ( game mandiri ) hal itu juga tidak masalah, yang terpenting jangan sampai terjadi kevakuman dalam kelas.

Pelajaran berharga tentang konsep sebuah Negara dari Siroh Nabawi.

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia Nya kita masih diberikan kenikmatan iman dan islam, sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya.
Pada kesempatan ini penulis mengemukakan sebuah tema dalam makalah ini yang berjudul : Pelajaran berharga tentang konsep sebuah Negara dari Siroh Nabawi. Makalah ini ditulis sebagai syarat untuk menyelesaikan mata kuliah Siroh Nabawi di Diklat Guru Sekolah Dasar ( DGSD ) Kualita Pendidikan Indonesia.
Seperti yang kita ketahui kota Madina pada awal awal kedatangan Nabi merupakakan kota yang sangat plural, terdapat berbagai macam suku dan etnis. Sejarah mencatat bahwa kota hijrah Nabi adalah sebuah lingkungan oase yang subur sekitar empatratus kilometer sebelah utara Makkah. Kota itu dihuni orang-orang Arab pagan atau musyrik dari suku-suku utama Aws dan Khazraj, dan orang-orang Yahudi (berbahasa Arab) dari suku-suku utama Bani Nazhir, Bani Qaynuqa’ dan Bani Qurayzhah. Kota oase itu agaknya sudah berdiri sejak zaman kuna yang cukup jauh, dengan Yatsrib atau, menurut catatan ilmu bumi Ptolemius, Yethroba.
Sebagaimana yang telah kita ketahui pula bahwa bangsa kita sepertinya tidak jauh beda dengan Madina pada saat itu, kita memilki berbagai macam suku dan agama ( Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu ), bahkan di satu agama pun ( islam ) kita memiliki memiliki lagi pluralitas yaitu dengan adanya NU, Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, Hisbut Tahrir dan juga ada yang beraliran keras seperti Front Pembela Islam.
Dalam makalah ini penulis berusaha menyajikan pelajaran – pelajaran yang dapat kita ambil dari Siroh Nabawi guna membentuk sebuah Negara dan bangsa yang aman dan damai di dalam kemajemukan dalam presfektif siroh nabawi, lebih – lebih ketika Nabi berada di Madinah. Semoga apa yang disajikan penulis dapat bermanfaat bagi kita semua.


Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH

Kemajemukan ( Pluralitas ) suku dan agama dalam sebuah bangsa dapat dipahami sebagai nikmat Tuhan, begitu menurut para beberapa tokoh bangsa ini seperti Gus Dur , Cak Nur dan Prof Syafi’I Ma’arif. Berkaca dari sejarah sangat kecil kemungkinan Negara kita bisa merdeka kalau tanpa adanya semangat persatuan dan kesatuan dari seluruh elemen bangsa yang majemuk pada waktu itu. Namun seiring dengan perjalan waktu dari sebuah bangsa, muncul berbagai macam idea atau gagasan tentang bentuk Negara yang pas buat Indonesia, kita mengenal adanya gerakan, Permesta, DI TII, dan masih banyak lagi yang lainnya yang kesemuanya hampir memiliki ide yang sama yaitu berdirinya Negara Islam Indonesia ( NII ).
Mereka ini memiliki pandangan didasarkan pada penafsiran dari ayat ‘udkuluu fissilmi kaaffah,
Menurut mereka dari ayat ini, segala gerak laku kita dalam kehidupan harus berdasarkan hukum-hukum islam termasuk dalam membentuk atau menjalankan Negara atau pemerintahan

B. RUMUSAN MASALAH

Dari sedikit cerita diatas dapat kita rumuskan beberapa masalah yang akan kita bahas pada makalah ini dengan salah satu sumber acuan adalah pelajaran dari Siroh Nabawi

1. Mengapa timbul keinginan untuk mendirikan Negara Islam ?
2. Apakah Negara islam itu perlu ada ?

Sekarang mari kita bahas satu demi satu, mengapa timbul keinginan untuk mendirikan Negara islam dan apakah Negara islam itu perlu ?, kelompok atau pandangan yang menginginkan berdirinya negara islam didasari oleh paradigma legal- ekslusif dalam pemikiran politik islam yang meyakini bahwa islam bukan hanya agama, tetapi juga sebuah sistem hukum yang lengkap, sebuah ideologi universal dan sistem yang paling sempurna yang mampu memecahkan seluruh permasalahan seluruh permasalahan kehidupan umat manusia. Para pendukung paradigma legal-ekslusif sepenuhnya yakin bahwa Islam adalah totalitas integratif dari tiga “d”: din (agama), daulah (negara), dan daunya ( dunia ). Konskuensinya seperti dikemukakan oleh Nazih Ayubi, paradigma didisain untuk mengaplikasikan semua aspek kehidupan, mulai dari soal remeh temeh masalah keluarga hingga menjangkau semua permasalahan ekonomi, social, politik dan sebagainya. Pandangan ini bertentangan dengan paradigma pemikiran politik islam suntantif – inklusif (pemikir islam moderat ), para pemikir islam yang memiliki pandangan ini memiliki ciri-ciri yaitu ; adanya kepercayaan yang tinggi bahwa Al Qur’an sebagai kitab suci berisikan aspek-aspek etik dan pedoman moral untuk kehidupan manusia, tetapi tidak menyediakan detail-detail permasalahan kehidupan . Argumen utama dari para pendukung argumen ini adalah, bahwa tak ada satu pun dari ayat Al Qur’an yang menekankan bahwa umat islam harus mendirikan Negara islam. Mereka berpendapat bahwa Al Qur’an memang memuat kandungan etika dan panduan moral untuk memimpin masyarakat politik, termasuk bagaimana menegakkan keadilan, kebebasan, kesetaraan, demokrasi dan lain-lain. Ciri yang lain dari penganut paradigma ini adalah ; bahwa missi utama Nabi Muhammad SAW bukanlah untuk membangun kerajaaan atau Negara. Tetapi seperti halnya para nabi yang lainnya, yakni mendakwakan nilai-nilai islam dan kebajikan. Dengan demikian missi Nabi Muhammad tidak perlu diartikan sebagai langkah untuk membangun Negara atau system pemerintahan tertentu. Kalau kita menengok sejarah ( siroh nabawi ) dikota madinah ( yang sebelumnya bernama yatsrib ) Nabi Muhammad tidak pernah mendeklarasikan berdrinya Negara Islam, atau juga mendeklarasikan berdirinya Negara Arab, Kedua hal tersebut tidak dilakukan oleh nabi. Dengan sangat bijak serta pemahaman yang sangat tinggi akan pluralitas Nabi Muhammad mendeklarasikan berdirinya Negara dengan konsep Negara Tamaddun ( berperadaban ). Saat itulah terkenal Sabda Nabi; Wala ‘udwaana illa ‘aladholimin . dilarang saling bermusuhan kecuali dengan orang – orang yang dholim ( apapun agamanya ). Konsep Negara ini diterima oleh semua pihak dan semua suku saat itu. Mereka merasakan bagaiman keadilan benar-benar ditegakkan. Siapapun yang salah dihukum meskipun itu sahabat nabi. Sikap egaliter sanagat dijunjung tinggi, Negara atau masyarakat seperti inilah yang kita cita-citakan. Dari sedikit uraian diatas maka jelaslah bagi kita bahwa kita memerlukan berdirinya Negara isalam, Negara kebangsaan atas dasar pancasila dan UUD 1945 adalah konsep Negara yang sudah pas bagi kita atas dasar berbagai pertimbangan yang ada dalam masyarakat kita.
BAB II
PEMBAHASAN
A. TUJUAN PENULISAN

Sengaja penulis memberi judul Pelajaran berharga tentang konsep sebuah Negara dari Siroh Nabawi untuk makalah ini karena menurut pribadi penulis saat ini masalah perdebatan bentuk atau konsep sebuah Negara mulai mengemuka lagi semenjak kran reformasi di buka sepuluh tahun silam. Dari beberapa kelompok islam bahkan dari partai politik masih memiliki keinginan untuk mendirikan Negara islam. Makalah ini hanya sebagai salah satu referensi dari sekian banyak referensi tentang bentuk atau konsep sebuah Negara, makalah ini juga ditulis untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang siroh nabawi, lebih khusus ketika Nabi berada di kota Madina. Dimana di kota tersebut Nabi tidak mendirikan Negara Islam atau Negara Arab. Namun Nabi mendirikan Negara dengan konsep Negara Tamddun ( Negara berperadapan ) atau dalam istilah sekarang kita sebut Negara kebangsaan atau nation state. Hal ini penting untuk kita ketahui sebagai pelajaran sejarah yang sangat berharga bagi kita, dan juga sebagai landasan bagi kita untuk melangkah dimasa yang akan datang.

B. PELAJARAN DARI SIROH NABAWI UNTUK KONSEP SEBUAH NEGARA
Kita sering mendengar, tujuan setiap negara yang berdiri di muka dunia adalah membangun negeri yang makmur dan menciptakan masyarakat madani, Ternyata asal kata madani adalah sebuah nama negara yang terbukti sukses menyelenggarakan kehidupan bernegara dengan makmur dan membuat struktur kemasyarakatan yang luar biasa tertata dalam tatanan moral dan kemanusiaan yang begitu rapi pada +/-1400 tahun yang lalu. Dan nama negara itu adalah negara Madinah Al-Munawara. Madinah dan madani, tidak jauh beda pelafalan katanya? negara Madinah merupakan sebuah negara paling sukses di masanya, bahkan paling sukses dari dulu hingga kini. Mari kita tengok sedikit sejarah berdirinya Negara Madina.
Pada hari Jumat, tanggal 24 September 622 Masehi, yang bertepatan dengan 12 Rabi'ul Awal 1 Hijriah, sebuah negara republik pertama berdiri di antara negara-negara monarki (kerajaan), yang masyarakatnya terdiri dari suku-suku 'badui' dimana sebelumnya mereka tidak pernah mengenal tatanan kenegaraan dalam kemasyarakatan. Madinah Al-Munawarah, negara ini hanya terbentang sebatas sebuah kota di tengah panasnya gurun Arabia di Timur Tengah. Negara Madinah terletak di atas tanah kota Yastrib (salah satu kota yang sebelumnya tidak berdaulat dan tidak berpenguasa), sebuah kota niaga yang sangat terkenal. Lalu, siapa pendiri negara Madinah? Ternyata pemimpin pertama negara ini bukan berasal dari kota Yastrib sendiri, namun berasal dari kota tetangganya yang bernama Makkah. 'Presiden' pertama sekaligus pendiri Madinah itu adalah Muhammad ibn Abdullah ibn Syaibah ibn Hasyim ibn Abi Manaf. Ya, ternyata pendiri negara Madinah adalah Nabi Muhammad saw.
Negara ini berdiri di bawah dasar negara dan konstitusi Piagam Madinah (Madinah Charter), yang beliau susun bersama para warga negaranya. Makanya nama negaranya Madinah, karena kota Yastrib yang waktu itu secara aklamasi dipimpin nabi saw. berganti nama menjadi Madinatun Nabiy (Kota Nabi) yang selanjutnya dikenal dengan nama Madinah. Penduduk negara ini terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama. Penduduk Madinah terdiri dari berbagai macam suku seperti: Khazraj, Aus, Quraisy, Qainuqa, Quraidah, Musthaliq, dll. Terdiri pula dari berbagai ras seperti: Arab, Persia, dan Yahuda. Juga terdiri dari berbagai macam agama seperti: Islam, Nasrani, Yahudi, Majusy, bahkan Pagan (penyembah berhala).
Pada awal berdirinya, Madinah hanyalah sebuah negara kota (polis) saja, namun setelah 8 tahun berdiri, negara ini nyata menjadi negara repulik (karena perluasan daerah juga bentuk dasar negara yang merupakan kesepakatan seluruh elemen masyarakat) yang wilayahnya terbentang sepanjang semenanjung Arab. Bahkan pada tahun yang sama (8 Hijriah), Madinah mampu melawan negara adidaya yang terbesar di dunia saat itu yakni Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) dalam kancah Perang Mu'tah dengan hasil seri. Begitu hebatnya negara yang baru berdiri 8 tahun lamanya ini sehingga dapat memukul mundur pasukan negara Romawi, yang notabene merupakan negara Adidaya (kalau zaman seperti berperang lawan Amerika Serikat), yang juga telah bediri ratusan tahun sebelumnya.



C. URGENSI PELAKSANAAN KONSEP TAMADDUN ( MADANI ) UNTUK NEGARA KITA
Kembali ke perkataan “madinah” yang digunakan Nabi s.a.w. untuk menukar nama kota hijrah beliau itu, kita menangkapnya sebagai isyarat langsung, semacam proklamasi atau deklarasi, bahwa di tempat baru itu hendak mewujudkan suatu masyarakat teratur (atau berperaturan), sebagaimana mestinya sebuah masyarakat. Maka sebuah konsep, madinah adalah pola kehidupan sosial yang sopan, yang ditegakkan atas dasar kewajiban dan kesadaran umum untuk patuh kepada peraturan atau hukum. Hal ini yang belum kita rasakan di Negara kita. Karut marutnya masalah bangsa kita saat ini tidak lepas dari bagaimana cara pandang pemimipin kita bagaimana seyognya mengelola sebuah Negara dengan benar menurut ajaran islam. Islam tidak mengajarkan kepada kita untuk mendirikan Negara berdasar islam secara formal, namun islam sangat menekankan bahwa Negara dibentuk untuk membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh warga Negara. Islam sangat tidak menyetujui perputaran hasil bumi yang hanya berputar pada segelintir orang tertentu saja
QS. Al Hasyr:7

Apa saja harta rampasan (fai-i)/ (kekayaaan alam ) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.
Untuk menciptakan Negara dengan masyarakat madani yang salah satu cirinya adalah adanaya kemakmuran dan kesejahteraan, maka salah satu kuncinya adalah menegakkan hukum dan keadilan dengan tanpa pandang bulu. Dengan kata lain hukum dan keadilan sebagai sokoguru peradaban.
Menarik untuk kita lihat satu hadist dibawah ini :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ
قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
رواه البخاري
Nabi bersabda : Apakah kalian tidak belajar dari kehancuran bangsa-bangsa sebelum kalian, saat itu ketika orang kecil bersalah hukum segera ditegakkan, namun apabila orang kaya dan punya pengaruh bersalah mereka ( pemerintah ) diam dan pura – pura tidak tahu. Lalu dihancurkanlah bengsa tersebut sehancur-hancurnya. Demi Allah jika Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.
( Hadist riwayat ; Imam Buchori )
Tentu kita semua tidak ingin kehancuran bangsa – bangsa sebelum kita juga terjadi di negeri kita tercinta ini, salah satu kuncinya adalah adanya kemauan secara sungguh – sungguh dan tulus bagi dari para pengelola Negara ini. Mari kita jadikan ruh dan substansi ajaran islam sebagai dasar pengelolahan Negara tanpa harus membentuk Negara islam secara formal guna mewujudkan masyarakat yang damai, adil, makmur dan sejahtera.




BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Perdebatan akan konsep sebuah Negara ( untuk Indonesia ) tidak akan begitu saja selesai, kita hormati itu sebagai kebebasan berpendapat dalam alam demokrasi. Sebagai penutup mari kita segarkan kembali ingatan kita dengan menengok sejarah, pada tahun 1936 para ulama ( diantaranya KH. Hasyim Asy’ari, KH. Bisri Syansuri, KH. Wahab Chasbullah ) melakukan rapan akbar di Banjarmasin, hasil dari rapat tersebut adalah bentuk Negara yang sesuai untuk indonesia adalah negara Darussalam yang melindungi segenap warga Negara Indonesia tanpa melihat suku, agama, ras, dan keyakinannya. Hasil keputusan ini ditinklanjuti oleh pembentukan BPUPKI yang salah satu anggotanya adalah H Wachid Hasyim. Dalam rapat BPUPKI disepakati bahwa bentuk Negara kita adalah Negara kebangsaan atau yang populer kita kenal sebagai Nation State. Beliau para ulama dan para pendiri Bangsa tentu sudah mempertimbangkan secara cermat keputusan ini. Sebagai generasi penerus mari kita teruskan cita-cita dari para pendiri bangsa ( founding fathers ) untuk membentuk Negara kebangsaan yang adil, damai, makmur, dan sejahtera.
B. SARAN DAN KRITIK
Penulis menyadari bahwa makala Pelajaran berharga tentang konsep sebuah Negara dari Siroh Nabawi masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat berharap masukan, saran dan kritik demi lebih sempurnanya makalah ini.
C. DAFTAR PUSTAKA
1. Islamku, Islam Anda, Islam Kita, karangan Abdurrahman Wahid, 2006
2. Hukum dan Keadilan sebagai Sokoguru Peradaban, kumpulan pemikiran Cak Nur
3. http://www.annasmaulana.co.cc/2011/05/antara-negara-madinah-negara-kesatuan.html




Classroom Management

Sumardiyono,
Dalam posisi kita sebagai seorang guru sebelum menyampaikan pelajaran maka hal yang paling penting adalah menciptakan suasana kelas yang kondusif. Inilah yang disebut ilmu peneglolahan kelas atau sering kita kenal denhan istilah classroom management
Wilford A. Weber mengemukakan bahwa “Classroom management is a complex set of behaviors the teacher uses to establishand maintain classroom conditions that will enable students to achieve their instructional objectives efficiently – that will enable them to learn.” Definisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan kelas merupakan seperangkat perilaku yang kompleks, dimana guru menggunakan untuk menata dan memelihara kondisi kelas yang akan memampukan para siswa mencapai tujuan pembelajaran secara efisien.
Lebih lanjut Wilford mengemukakan mengenai pandangan-pandangan yang bersifat filosofis dan operasional dalam pengelolaan kelas:
1) pendekatan otoriter: siswa perlu diawasi dan diatur;
2) pendekatan intimidasi : mengawasi siswa dan menertibkan siswa dengan cara intimidasi;
3) pendekatan permisif : memberikan kebebasan kepada siswa, apa yang ingin dilakukan siswa, guru hanya memantau apa yang dilakukan siswa;
4) pendekatan resep masakan : mengikuti dengan tertib dan tepat hal-hal yang sudah ditentukan, apa yang boleh dan apa yang tidak;
5) pendekatan pengajaran : guru menyusun rencana pengajaran dengan tepat untuk menghindari permasalahan perilaku siswa yang tidak diharapkan;
6) pendekatan modifikasi perilaku : mengupayakan perubahan perilaku yang positif pada siswa;
7) pendekatan iklim sosio-emosional : menjalin hubungan yang positif antara guru-siswa ;
8)Pendekatan sistem proses kelompok/dinamika kelompok : meningkatkan dan memelihara kelompok kelas yang efektif dan produktif.
Dari kedelapan pendekatan tersebut yang akan mengoptimalisasikan adalah pendekatan modifikasi perilaku, iklim sosio-emosional, dan sistem proses kelompok/dinamika kelompok.
Guru sebagai pengelolaan kelas merupakan orang yang mempunyai peranan yang strategis yaitu orang yang merencanakan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di kelas, orang yang akan mengimplementasikan kegiatan yang direncanakan dengan subjek dan objek siswa, orang menentukan dan mengambil keputusan dengan strategi yang akan digunakan dengan berbagai kegiatan di kelas, dan guru pula yang akan menentukan alternatif solusi untuk mengatasi hambatan dan tantangan yang muncul; maka dengan tiga pendekatan-pendekatan yang dikemukakan, akan sangat membantu guru dalam melaksanakan tugas pekerjaannya.
Pengelolaan kelas akan menjadi sederhana untuk dilakukan apabila guru memiliki motivasi kerja yang tinggi, dan guru mengetahui bahwa gaya kepemimpinan situasional akan sangat bermanfaat bagi guru dalam melakukan tugas mengajarnya.
Dengan demikian pengelolaan kelas tidak dapat terlepas dari motivasi kerja guru, karena dengan motivasi kerja guru ini akan terlihat sejauhmana motif dan motivasi guru untuk melakukan pengelolaan kelas, sedangkan dengan gaya kepemimpinan guru yang tepat yang digunakan dalam pengelolaan kelas akan mengoptimalkan dan memaksimalkan keberhasilan pengelolaan kelas tersebut.
2. Hakekat Motivasi
Abraham H. Maslow dengan teori motivasi-nya mengemukakan ada lima tingkatan kebutuhan manusia secara berjenjang :
1) phisik : sandang, pangan,dan papan;
2) rasa aman dan jaminan : tidak ada kekawatiran akan dikeluarkan dari tempat kerja sewaktu-waktu;
3) kasih sayang dan kebersamaan;
4) penghargaan dan pengakuan dan;
5) aktualisasi diri.
Dikatakan bahwa pada umumnya kebutuhan yang lebih tinggi tingkatannya akan muncul setelah kebutuhan pada tingkatan sebelumnya terpenuhi/terpuaskan. David Mc. Clelland dengan Three N yaitu :
1) needs for achievement;
2) needs for power;
3) needs for afiliation.
Tujuan guru pada dasarnya adalah bagaimana guru dapat mentransfer materi pelajaran dengan baik, sehingga siswa dapat mengerti dan menerima materi pelajaran yang diajarkan. Mencermati teori kebutuhan Abraham Maslow, teori kebutuhan berprestasi David Mc. Clelland, teori ekspektansi Victor H. Vroom, maka motivasi guru menjadi dasar pertama untuk keberhasilan guru dalam mengelola kelas. Guru yang puas dengan apa yang diperoleh atau apa yang dapat dicapai dari hasil dan lingkungan kerja akan dapat berperan banyak dibandingkan dengan guru yang memiliki motivasi rendah. Akibat perilaku motivasi guru yang rendah, guru tidak akan sempat mempersiapkan pelajarannya dengan baik atau memeriksa tugas siswa satu per satu; guru hanya akan mengajar dengan metode mengajar yang mudah dilakukan baginya tanpa memperhatikan apakah siswa-siswanya dapat mengerti materi pelajaran yang diajarkannya. Sebaliknya guru yang menaruh perhatian pada perkembangan siswa ( memiliki motivasi tinggi ), akan berupaya menyumbangkan segala kemampuannya untuk kepentingan siswa.
Kedua perilaku guru yang digambarkan diatas tidak terlepas dari motivasi yang dimiliki guru. Guru yang memiliki motivasi yang tinggi dan tidak hanya untuk kepentingan dirinya, akan dapat melakukan pengelolaan kelas dengan tepat. Guru tersebut akan menaruh perhatian bagi siswa dan kelasnya. Demikian pula motivasi kerja guru ada hubungannya dengan gaya kepemimpinan guru dalam arti guru yang memiliki motivasi kerja tinggi, akan berupaya untuk melakukan berbagai strategi untuk keberhasilan PBM-nya termasuk untuk menggunakan gaya kepemimpinan yang tepat.
3. Hakekat Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan diartikan sebagai pola tindak seseorang dari seorang pemimpin sebagai ciri kepemimpinannya. Definisi kepemimpinan hampir sama banyaknya dengan jumlah orang yang mencoba mendefinisikan konsep tersebut antara lain :
- Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas- aktivitasnya suatu kelompok ke tujuan yang ingin dicapainya bersama.
- Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
Lebih lanjut dikemukakan bahwa gaya kepemimpian yang berdasarkan pada kewenangan yang dimiliki seorang pemimpin dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu :
1) Gaya kepemimpinan autokratik (otoriter);
2) Gaya kepemimpinan demokratik atau partisipatif dan;
3) Gaya kepemimpinan bebas (laissez faire atau free rein)
Para ahli menyatakan bahwa tidak ada satu gaya pun yang paling tepat yang dapat mengatasi permasalahan yang muncul dalam berbagai situasi yang berbeda. Pendekatan situasional merupakan alternatif untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang berbeda-beda. Kepemimpinan situasional menjelaskan bagaimana seseorang berperilaku. Peneliti pada Ohio States Leadership Studies, Ralph Stodgill mendefinisikan kepemimpinan sebagai perilaku individu ketika mengarahkan aktivitas suatu kelompok untuk mencapai tujuan, terdiri dari :
1) initiating structure : perilaku pemimpin yang berorientasi tugas dan;
2) consideration : perilaku pemimpin yang berorientasi hubungan.
Seorang pemimpin yang berorientasi tugas akan mempunyai kecenderungan berperilaku untuk menginformasikan apa yang diharapkan dari mereka; memberikan tugas-tugas secara khusus; mengarahkan dan membantu pengikutnya menyelesaikan tugas-tugas yang harus diselesaikan; minta anggota kelompoknya untuk mengikuti standar peraturan dan ketentuan.
Seorang pemimpin yang berorientasi hubungan akan mempunyai kecenderungan berperilaku untuk menyediakan waktu, mendengarkan anggota kelompoknya, menaruh perhatian pada permasalahan yang dikemukakan, ingin melakukan perubahan ke arah yang lebih baik; bersikap ramah dan bersahabat. Gaya kepemimpinan seseorang adalah pola perilaku seseorang ketika mencoba mempengaruhi aktivitas yang dilakukan. Gaya kepemimpinan seseorang merupakan kombinasi perilaku yang berorientasi tugas dan perilaku yang berorientasi hubungan.
Gaya kepemimpinan guru adalah pola tindakan yang dilakukan guru, yang disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan siswa. Pola tindakan yang perlu dimiliki guru adalah pola tindak yang berorientasi pada tugas, dan yang berorientasi pada hubungan. Pola tindakan yang berorientasi pada tugas bertujuan untuk membantu siswa terutama yang mempunyai kemampuan melakukan tugas rendah, agar dapat menyelesaikan tugas dengan benar. Pola tindak yang berorientasi pada hubungan bertujuan untuk mengkondisikan situasi kelas/belajar mengajar (memotivasi atau menstimulasi atau mempengaruhi), agar tugas/kegiatan guru dan siswa dapat dilakukan dengan tepat.
4. Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan gaya kepemimpinan yang perlu dimiliki guru adalah gaya kepemimpinan situasional, artinya seorang guru perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan suatu gaya kepemimpinan sesuai dengan kebutuhan kelas dalam melaksanakan PBM.
Gaya kepemimpinan ini akan menentukan efektivitas dan efisiensi kepemimpinan seseorang. Pengelolaan kelas yang berhasil dengan baik akan ditentukan pula oleh kepemimpinan dan gaya kepemimpinan guru yang mengelola kelas tersebut. Kepemimpinan dan gaya kepemimpinan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Selain faktor motivasi kerja guru, faktor lain yang ada pada pribadi guru dan ikut menentukan efektivitas pengelolaan kelas yaitu gaya kepemimpinan guru. Gaya kepemimpinan adalah bagian dari kepemimpinan seorang guru yang disadari atau tidak, dimiliki oleh guru tersebut. Pengelolaan kelas memiliki fungsi yang jelas. Tujuan pengelolaan kelas yaitu menciptakan dan menjaga kondisi kelas agar PBM dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan sasarannya.
http://jcruyf77.wordpress.com/2009/12/11/contoh-artikel-pengelolaan-kelas/

Jumat, 01 Juli 2011

NU dan Negara Islam (1)

Oleh KH. Abdurrahman Wahid
Sebuah pertanyaan diajukan kepada penulis: apakah reaksi NU (Nahdlatul Ulama) terhadap gagasan Negara Islam (NI), yang dikembangkan oleh beberapa partai politik yang menggunakan nama tersebut? Pertanyaan ini sangat menarik untuk dikaji terlebih dahulu dan dicarikan jawaban yang tepat atasnya. Inilah untuk pertama kali organisasi yang didirikan tahun 1926 ini ingin diketahui orang bagaimana pandangannya mengenai NI. Ini juga berarti, keinginntahuan akan hubungan NU dan keadaan bernegara yang kita jalani sekarang ini dipersoalkan orang. Dengan kata lain, masalah pendapat NU sekarang bukan hanya  menjadi masalah intern organisasi saja, melainkan sudah menjadi "bagian" dari kesadaran umum bangsa kita. Dengan upaya menjawab pertanyaan tersebut, penulis ingin menjadi bagian dari proses berpikir yang sangat luas seperti itu, sebuah keinginan yang pantas-pantas saja dimiliki seseorang yang sudah sejak lama tergoda oleh gagasan NI.
Dalam sebuah tesis MA -yang dibuatnya beberapa tahun yang lalu, pendeta Einar Martahan Sitompul, yang di kemudian hari menjadi Sekretaris Jenderal Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), menuliskan bahwa Muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin (Borneo Selatan), harus menjawab sebuah pertanyaan, yang dalam tradisi organisasi tersebut  dinamai bahtsul al-masa'il  (pembahasan masalah). Salah sebuah masalah yang diajukan kepada muktamar tersebut berbunyi: wajibkah bagi kaum muslimin untuk mempertahankan kawasan Kerajaan Hindia Belanda, demikian negara kita waktu itu disebut, padahal diperintah orang-orang non-muslim? Muktamar yang dihadiri oleh ribuan orang ulama itu, menjawab bahwa wajib hukumnya secara agama, karena adanya dua sebab. Sebab pertama, karena kaum muslimin merdeka dan bebas menjalankan ajaran Islam, di samping sebab kedua, karena dahulu di kawasan tersebut telah ada Kerajaan Islam. Jawaban kedua itu, diambilkan dari karya hukum agama di masa lampau, berjudul "Bughyah al-Mustarsyidin".
Jawabaan di atas memperkuat pandangan Ibn Taimiyyah, beberapa abad yang lalu. Dalam pendapat pemikir ini, Hukum Agama Islam (fiqh) memperkenankan adanya "pimpinan berbilang" (ta'addud al-a'immah), yang berarti pengakuan akan kenyataan bahwa kawasan dunia Islam sangatlah lebar di muka bumi ini, hingga tidak dapat dihindarkan untuk dapat menjadi efektif (syaukah). Konsep ini, yaitu adanya pimpinan umat yang hanya khusus berlaku bagi kawasan yang bersangkutan, telah diperkirakan oleh kitab suci Al-qur'an dengan Firman Allah; "Sesungguhnya Aku telah menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa, agar kamu sekalian saling mengenal" (Inna khalaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja'alnakum syu'uban wa qaba'ila li ta'arafu). Firman Allah inilah yang menjadi dasar adanya perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, walaupun dilarang adanya perpecahan diantara mereka, seperti kata firman Allah juga: "Berpeganglah kalian (erat-erat) kepada tali Allah secara keseluruhan, dan janganlah terbelah-belah/saling bertentangan" (wa'tashimu bi habli Allahi jami'an wa la tafarraqu).
*****
Dengan keputusan Muktamar Banjarmasin tahun 1935 itu, NU dapat menerima kenyataan  tentang kedudukan negara dalam pandangan Islam -menurut paham organisasi tersebut-. Yaitu pendapat tentang tidak perlunya NI didirikan, maka dalam hal ini diperlukan sebuah klarifikasi yang jelas tentang perlu tidaknya didirikan sebuah NI. Di sini ada dua pendapat, pertama; sebuah NI harus ada, seperti pendapat kaum elit politik di Saudi Arabia, Iran, Pakistan dan Mauritania. Pendapat kedua, seperti dianut oleh NU dan banyak organisasi Islam lainnya, tidak perlu ada NI. Ini disebabkan oleh heteroginitas sangat tinggi di antara para warga negara, di samping kenyataan ajaran Islam menjadi tanggungjawab masyarakat, dan bukannya negara. Pandangan NU ini bertolak dari kenyataan bahwa Islam tidak memiliki ajaran formal yang baku tentang negara, yang jelas ada adalah mengenai tanggungjawab masyarakat untuk melaksanakan Syari'ah Islam.
Memang, diajukan pada penulis argumentasi dalam bentuk firman Allah; "Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kalian, Ku-sempurnakan bagi kalian (pemberian) nikmat-Ku dan Ku-relakan Islam "sebagai" agama (Al-yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu alaikum nikmati wa radlitu lakum al-Islama diinan). Jelaslah dengan demikian, Islam tidak harus mendirikan negara agama, melainkan ia berbicara  tentang kemanusiaan secara umum, yang sama sekali tidak memiliki sifat memaksa, yang jelas terdapat dalam tiap konsep tentang negara. Demikian pula, Firman Allah; "Masuklah kalian ke dalam Islam (kedamaian) secara keseluruhan" (Udkhulu fi al-silmi kaffah). Ini berarti kewajiban bagi kita untuk menegakkan ajaran-ajaran kehidupan yang tidak terhingga, sedangkan yang disempurnakan adalah prinsip-prinsip Islam. Hal itu menunjukkan, Islam sesuai dengan tempat dan waktu manapun juga, asalkan tidak melangar prinsip-prinsip tersebut. Inilah maksud dari ungkapan Islam tepat untuk segenap waktu dan tempat (Al-Islam yasluhu likulli zamanin wa makanin).
Sebuah argumentasi sering dikemukakan, yaitu ungkapan Kitab Suci; "Orang yang tidak "mengeluarkan" fatwa hukum (sesuai dengan) apa yang diturunkan Tuhan, maka orang itu (termasuk) orang yang kafir -atau dalam variasi lain dinyatakan orang yang dzalim atau orang yang munafiq-" (Wa man lam yahkum bima anzala Allahu wa hua kaafirun). Namun bagi penulis, tidak ada alasan untuk melihat keharusan mendirikan NI, karena Hukum Islam tidak bergantung pada adanya negara, melainkan masyarakat pun dapat memberlakukan hukum agama. Misalnya, kita bersholat Jum'at, juga tidak karena undang-undang negara, melainkan karena itu diperintahkan oleh Syari'at Islam. Sebuah masyarakat yang secara moral berpegang dan dengan sendirinya melaksanakan Syari'ah Islam, tidak lagi memerlukan kehadiran sebuah Negara Agama, seperti yang dibuktikan para sahabat di Madinah setelah Nabi Muhammad SAW wafat.
*****
Inilah yang membuat mengapa NU tidak memperjuangkan sebuah NI di Indonesia (menjadi NII, Negara Islam Indonesia). Kemajemukan (heterogenitas) yang tinggi dalam kehidupan bangsa kita, membuat kita hanya dapat bersatu dan kemudian mendirikan negara, yang tidak berdasarkan agama tertentu. Kenyataan inilah yang sering dikacaukan oleh orang yang tidak mau mengerti bahwa mendirikan sebuah NI tidak wajib bagi kaum muslimin, tapi mendirikan masyarakat yang berpegang kepada ajaran-ajaran Islam adalah sesuatu yang wajib. Artinya, haruskah agama secara formal ditubuhkan dalam bentuk negara, atau cukup dilahirkan dalam bentuk masyarakat saja? Orang "berakal sehat" tentu akan berpendapat sebaiknya kita mendirikan NI, kalau memang hal itu tidak memperoleh tentangan, dan tidak melanggar prinsip persamaan hak bagi semua warga negara untuk mengatur kehidupan mereka.
Telah disebutkan di atas tentang fatwa Ibn Taimiyyah, tentang kebolehan Imam berbilang yang berarti tidak adanya keharusan mendirikan NI. Lalu mengapakah fatwa-fatwa beliau tidak digunakan sebagai rujukan oleh Muktamar NU? Karena, pandangan beliau digunakan oleh wangsa yang berkuasa di Saudi Arabia bersama-sama dengan ajaran-ajaran Madzhab Hambali (disebutkan juga dalam bahasa Inggris Hambalite School), yang secara de facto melarang orang bermadzhab lain. Kenyataan ini tentu saja membuat orang-orang NU bersikap reaktif terhadap madzhab tersebut. Tentu saja hal itu secara resmi tidak dilakukan, karena sikap Saudi Arabia  terhadap madzhab-madzhab non-Hambali juga tidak bersifat formal. Dengan kata lain, pertentangan pendapat antara "pandangan kaum Wahabi" yang secara de facto demikian keras terhadap madzhab-madzhab lain itu, menampilkan reaksi tersendiri yang tidak kalah kerasnya. Ini adalah contoh dari sikap keras yang menimbulkan sikap yang sama pada "pihak seberang".
Contoh dari sikap saling menolak, dan saling tak mau mengalah itu membuat gagasan membentuk NI di negara kita (menjadi NII), sebagai sebuah utopia yang terdengar sangat indah, namun sangat meragukan dalam kenyataan. Ini belum kalau pihak non-muslim ataupun pihak kaum Muslimin nominal (kaum abangan), tidak berkeberatan atas gagasan mewujudkan negara Islam itu. Jadi gagasan yanag semula tampak indah itu, pada akhirnya akan dinafikan sendiri oleh bermacam-macam sikap para warga negara, yang hanya sepakat dalam mendirikan negara bukan agama. Inilah yang harus dipikirkan sebagai kenyataan sejarah.  Kalaupun toh dipaksakan -sekali lagi- untuk mewujudkan gagasan NI itu di negara kita, maka yang akan terjadi hanyalah serangkaian pemberontakan bersenjata seperti yang terjadi di negara kita tahun-tahun 50-an. Apakah deretan pemberontakan bersenjata seperti itu,  yang ingin kita saksikan kembali dalam sejarah modern bangsa kita ? Ini prinsip yang jelas, tapi sulit dilaksanakan, bukan?